Jumat, 17 Juni 2011

Antarticz Rain

Hari ke sembilan belas...Sore hari tidak pernah seindah ini, meski gerimis telah turun sejak siang tadi. Rinai riuh seperti genta beradu saat pesan itu kuterima dan aku pun segera berlari menemuimu..hanya menemuimu.
Dan seketika waktu berhenti, dadaku sesak, tarikan napasku menjadi begitu tidak konstan, badanku menjadi sangat dingin (kalo dak salah ini tanda-tanda asma), semua serangga besar maupun kecil di pelataran parkir sore ini bersorak sorai saat aku mengatakannya...mereka tidak akan pernah lagi melihatku dalam keadaan sebodoh sekarang. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa telah terlalu lama menunggu untuk hari ini.
Lampu jalan pun akhirnya menyala (mereka terlambat 18 detik petang ini), membuatku menjadi sangat aneh. Mungkin dunia pararel yang Einstein katakan benar adanya, ini seperti..mimpi.
Apakah cahaya monokhromatik dengan panjang gelombang tidak seberapa bisa membunuh semua isi kepalaku?? Tidak, karena jawaban sebenarnya sedang duduk di hadapanku. Apakah kau selalu berbaju merah seperti ini atau aku yang mengalami pendarahan hebat hingga membuatmu berlumuran darah?? Sikap diammu baru saja menewaskan seorang pemuda tanggung berstatus mahasiswa (red: Akhmad Taufiq) tanpa reaksi perlawanan yang berarti.
Lalu ketika malam tiba, aku tidak pernah kehilangan sedalam ini..saat kereta biru beroda empat dengan nomor 07 tolol itu membawamu pergi. Siapapun dia yang duduk mengemudikan benda dari neraka itu tidak akan tahu apa yang telah dilakukannya padaku!! Dan..siapapun dia yang memiliki ide untuk membuat jalur angkutan umum dalam kampus, saya akan membunuhnya!!! Apa yang ada dikepala orang gila itu?! Bukankah antartika hanya beberapa ribu kilometer dari tempat ini...?

Tidak ada komentar: