Jumat, 17 Juni 2011

Mission imposible chptr.29

Pukul 14:00 WITA, ketika 59 orang berkumpul di koridor jurusan Teknik Geologi dengan seragam lengkap berwarna merah maroon (bukan jie yang nomor 5). Sebenarnya aku sangat menginginkan seragam ini berubah menjadi lebih gelap (hitam) tapi hasil voting 1:58 mengubur dalam-dalam keinginanku tersebut (demokrasi selalu membawa korban).
Kami semua telah berbaris rapi dengan seragam (benci mengatakan ini, merah maroon) dan topi rimba bertengger di atas kepala. Sekarang kami semua persis penari club malam dari pedalaman mexico. Dan yang sangat mengganggu, ternyata ada yang begitu menikmati pemandangan seperti sekarang ini dan bahkan sangat bangga karena sebentar lagi perhelatan akbar (mereka menyebutnya Kuliah Lapangan) akan segera dimulai. Di sinilah 3 minggu terkelam dalam sejarah kehidupan sebagai seorang mahasiswa di Jurusan Teknik Geologi. Bukannya membesar-besarkan, tapi dalam tiga minggu ini, kami akan menjadi sangat akrab dengan penderitaan berkepanjangan, penindasan tiada henti, dan waktu tidur yang tidak proporsional.
Bus-bus fakultas telah siap dan terparkir rapi pada tempatnya, siap setiap saat mengantar kami menuju tempat praktek kerja rodi di Kabupaten Barru. Barang-barang bawaan telah diangkut ke dalam mobil (kebanyakan adalah peralatan yang semuanya bisa digunakan untuk bunuh diri), Mars Geologi telah dinyanyikan, salam perpisahan telah dilakukan dan kami pun berangkat.
Perjalanan menjadi begitu tidak menyenangkan, karena semua sadar ini bukan rekreasi ke taman hiburan. Bahkan ketika tiba pada salah satu rest area di Kota Maros, semua orang panik menahan salah satu peserta yang mencoba membeli obat anti nyamuk cair. Kami sangat khawatir dia akan meminumnya untuk bunuh diri, Hufff..
Dan kami pun tiba ketika hari sudah menjelang malam, setelah memberi tanda tangan pada para penduduk desa yang telah menunggu kami dari pagi, proses bersih-bersih camp pun dilakukan (Mode Kerja Rodi : AKTIF)
Tiba-tiba salah seorang peserta meronta-ronta dan mencoba mengejar bus yang telah pulang beberapa menit yang lalu. Tapi tidak seorang pun diantara kami yang berniat menahannya, karena semua tahu itu tindakan bodoh dan sia-sia...Mereka akan menjemput kami tiga minggu lagi, dan satu-satunya yang harus kami lakukan sampai hari itu tiba adalah "tetap hidup".

Tidak ada komentar: