Jumat, 17 Juni 2011

Antarticz Rain 6

[Cuaca panas dan tidak bersahabat diperagakan Siuna siang ini, badai pasir mengurung orang orang di dalam rumah]

Saya ingin mendengar suaramu, hatiku sudah memutuskannya...
Setelah prosedur peminjaman kendaraan yang berbelit belit, akhirnya saya dengan gagah berani ibarat seorang pahlawan perang, berlari sekencang kencangnya untukmu. Lagipula tidak akan ada polisi lalu lintas yang cukup gila untuk bertugas di daerah ini. Siuna adalah pangkalan luar angkasa terjauh yang dihuni koloni manusia dan hanya dikunjungi untuk mengamati meteor super besar yang dikhawatirkan akan menabrak bumi atau ada sesuatu yang salah pada laboratorium pengayaan uranium yang tepat berada di ujung belokan jalan desa sebelah timur. Tempat ini sangat bersahabat [kita harus menyadari, kadang kadang peradaban memuakkan]. Dengan berbekal informasi singkat tentang tempat yang dituduh mengandung sinyal Telkom##l, sekarang saya tersesat sendirian di tengah hutan mencari pohon kelapa dimana penduduk desa biasanya melakukan komunikasi telepon [di sini banyak sekali pohon kelapa, biar ko pake mandi bisa], rasanya mau menangis tapi itu tidak ada dalam SOP hidupku. Meski sebenarnya tegar tidak cukup mampu membuatku keluar dari masalah. Beberapa menit berlalu dan tiba tiba di depanku muncul sebuah rumah kebun. Ada perasaan khawatir ketika mendekati tempat yang sepertinya secara teknis tidak berpenghuni tapi secara tidak teknis berpenghuni [kalau sering nonton film horor Indonesia pasti akan lebih mudah mengerti kondisinya]. Perasaan khawatir tadi perlahan lahan berubah menjadi perasaan takut menjelang histeris dalam jarak yang semakin dekat..semakin dekat…semakin dekat…semakin dekat..semakin dekat..semakin dekat…semakin dekat…semakin dekat…[saya bisa melakukan ini seharian penuh. Tidak percaya?] semakin dekat..semakin dekat…semakin dekat…semakin dekat..semakin dekat..semakin dekat..semakin dekat [I am absolutely retard..lol]

“Bacari apa?” Seorang nenek menyapa dari belakang…

“[pingsan karena kaget...sangat memalukan!]”

“Bacari apa ngana?” ulang nenek tadi.
“Cari tempat batelpon, nek”
“Ebeeeeeeeee…eeeeee di situ dia [jarinya menunjuk ke arah jurang]”
“Jangan nek, saya masih muda…”
“Ebeeeeeeeee…eeeeeeeeeee bukang mo suru ngana mati [jarinya kali ini menunjuk ke arah pohon kelapa yang berada tepat di tepi jurang].
Benar benar kebetulan. Kenapa orang orang senang membahayakan hidup untuk sekedar melakukan komunikasi [ask me]? Sampai di pohon kelapa yang nenek tadi maksud saya pun menemukan jawabannya. di seberang teluk berdiri megah sebuah repeater berwarna merah putih. Rasanya seperti mendengar akan ada rapat guru ketika masih SD, sehingga jam pulang dimajukan. Benar benar keajaiban yang sangat menyenangkan…
[Menghidupkan HP]
Buka facebook [saya akan mengaku di sini, saya suka sekali buka pagemu.. meski sebenarnya saya selalu lebih suka foto profilmu ketika akunmu baru dibuat].
[Keluar dari facebook]
Setelah memikirkan cukup lama akan mengatakan apa saja, saya kemudian mencari namamu pada buku telepon lalu menekan tombol Ok/Yes [terima kasih Telkom##l, format ini saya belajar dari sms sms pelanggan tololmu yang berisi liburan ke Bali bersama Anang-Aurel! Tapi lain kali kalo mau kirim sms jelaskan dulu siapa orang orang ini].
“Halo…” so glad it’s your voice.
“Assalamualaikum..”
“Waalaikumussalam. Kenapa kak?” It’s your voice again.
“Hehehehe ndak…” [Taufiq, that’s all you can say? Scumbag!]
Kemudian saya mengatakan sesuatu [saya tidak ingat tapi sepertinya cukup bodoh karena kau menanggapi dengan dua kata : plin plan]. Ingin rasanya berbicara denganmu seumur hidup tapi bukankah orang birokrasi adalah tembok tinggi menjulang diantara kita. Lagipula ketika berurusan denganmu saya tidak pernah tahu harus berbicara apa, karenanya saya memilih untuk lebih banyak tertawa dan sekarang kau pastinya menganggapku semakin aneh [GREAT!]. Tapi isi kepalamu bukan urusanku karena saya memilih untuk menyukaimu dengan cara Akhmad Taufiq yang agung…

PS : At least I’ll make it much easier for you. I am worst.

Tidak ada komentar: