17 Januari 2012
Bungku – Bahodopi dalam kecepatan kurang lebih 40 Km/jam [Jalan rusak parah, sapi menguasai badan jalan]
Sekarang pukul 08:00 Wita, pagi yang begitu cerah dan harusnya itu membuat perjalanan ini menjadi menyenangkan. Saya menyebutnya deteleportasi, itu ketika saya dipindahkan dari site satu ke site yang lain dengan jarak tempuh yang lumayan besar. Tapi bukankah menjadi buruh membuat pilihan untuk memutuskan sesuatu berdasarkan pertimbangan pribadi menjadi sangat terbatas. Tapi apapun itu, saya menyukai bepergian, kemana pun dan kapan pun.
Awalnya saya berpikir semua kendaraan umum yang beroperasi di kota Bungku memiliki jenis yang sama : mini bus. Ternyata salah, saya dan delapan orang yang lain termasuk pengemudi sekarang berada dalam kendaraan beroda empat yang bangku penumpangnya menghadap ke samping [di Makassar ini disebut pete pete, di Morowali mereka menyebutnya blender mekanik pengaduk isi perut]. Semua orang yang berada dalam kendaraan ini sepertinya memiliki hubungan keluarga kecuali saya, seorang pria yang tidak ingin saya sebutkan dalam tulisan ini dan tiga orang yang duduk di depan [serius mereka duduk bertiga, orang yang di tengah berupaya sedemikian rupa untuk memposisikan handle persneling berada tepat diantara kedua lututnya]. Tiga orang tolol ini membuat sedikit masalah di awal perjalanan. Orang tolol pertama yang mengemudikan kendaraan mengeluh kesulitan mengoper gigi, katanya lutut orang tolol yang kedua menghimpit handle. Orang tolol ketiga yang duduk dekat pintu depan sebelah kiri sebenarnya tidak terlalu berhubungan dengan kekacauan ini, tapi alasannya untuk memaksakan diri duduk di depan dan sekarang membuat jumlah mereka sekarang lebih besar dari dua sedikit bikin emosi [duduk dibelakang membuat mual katanya. Trus kenapa anda tidak naik cable car, Mr. President?]
Beralih ke belakang, satu orang pria yang tidak ingin saya sebutkan tadi duduk di depan pintu keluar. Dari tadi orang ini merokok tanpa henti. Saya mengasumsikan orang ini punya masalah PPKN yang cukup parah. Asap rokoknya membuat kabin penumpang menjadi seperti pangkalan gerobak sate di jam makan malam yang sibuk. Saya memutuskan untuk tidak berinteraksi dengan orang ini selama perjalanan untuk alasan apapun dan memilih menganggap orang ini tidak pernah ada, tembus pandang dan tidak punya bobot penting untuk diperdulikan. Saya baru saja berhenti berpikir seperti tadi ketika tiba tiba dia bermaksud meminjam korek api [punya dia kelihatannya rusak parah. Wajar. Tingkat pengoperasian ekstrim]. Saya tidak perduli seperti yang saya katakan dan pasang tampang “Did I hear something?”. Dia kelihatan sedikit emosi dan berniat menyalurkannya. Saya terpaksa harus melakukan sedikit improvisasi dengan menjatuhkan palu Geologi dari dalam tas secara sangat disengaja. Suara benturan palu dan lantai mobil sangat keras, membuat penumpang lain bergidik ngeri [Don’t try me, I got a serious mental sickness ladies and gentlemen…]
Empat orang yang lain mungkin memiliki hubungan seperti ini : Ibu mertua, Istri, Suami dan anak. Sepertinya mereka baru keluar dari rumah sakit. Di pangkuan sang istri terdapat amplop besar bertuliskan radiologi, mereka membawa banyak barang dan tas berisi pakaian. Termos air panas memperkuat asumsiku. Cukup bisa diterima kan? Wajah anak mereka kelihatan sangat pucat [dia yang sakit dan menurutku tipus]. Anak ini mengeluh pusing tiap lima menit sekali. Sekarang sudah hampir satu jam, jadi jumlah total keluhan harusnya bisa dihitung untuk mengetahui rata rata produksi keluhan per hari. Tidak perlu menganggapku gila, saya menghitungnya sekedar untuk mencari kesibukan. Itu juga masih bisa diterima kan?
Kami baru saja melewati SDN Inpres 1 Bahomotefe ketika sang Ibu mertua berbicara dengan sedikit lantang kepada sang istri yang wajahnya mulai sedikit pucat dan matanya menunjukkan disorientasi ringan. “Ati’! Ada minyak anginmu?” perempuan yang namanya Ati’ menggeleng dan balik bertanya pada suaminya. “Pa, ada kantong kresek?” yang ditanya juga menggeleng lalu beribacara pada anak lelaki yang duduk di sampingnya. “#*@####**@*@*@*@**#^$##!@#$@% [dalam bahasa daerah yang saya tidak mengerti]. Si anak bereaksi dengan menutupi seluruh permukaan tubuhnya pakai sarung. Ibu mertua menjulurkan kepalanya keluar melalui jendela, tangannya mencengkeram sandaran kepala kursi pengemudi. Beberapa kali sang sopir harus berbalik untuk melihat apa yang menyentuh kepalanya [kebanyakan nonton godzilla bikin paranoid, betul kan pak sopir?]. Sang istri mulai berbaring gelisah di lantai mobil sambil menutupi wajahnya dengan koran. Sang suami menyalakan rokok dan mulai bernyanyi dalam bahasa daerah yang tidak ada subtitlenya. Si anak tidak bergerak sama sekali. Pria depan pintu menyalakan rokoknya yang ke 177886999! Dengan dua orang perokok profesional dan terlatih, sekarang jarak pandang di dalam kabin tidak lebih dari 2,5 cm.
Oh Tuhan! Ini mulai terlihat seperti gathering klub pecandu mabuk lem Fox!
Lalu tiba tiba mereka berurutan muntah mulai dari si ibu mertua, istri lalu suami. Cairan berhamburan dan menempel dimana mana. Agak menyesal duduk di sini, harusnya tadi saya memilih duduk di atap mobil. Kenapa kalian tidak muntah kearah kriminal yang duduk dekat pintu??
Kenapa harus saya? KENAPA?!?!
Sampai di Bahodopi. Saya diturunkan dekat lapangan, bersemak dan tidak ada rumah. Baru mau bertanya “dak salah ini, pak?” tapi mobilnya sudah pergi tanpa permisi. Jadi ini sapta pesona wisata yang kalian bicarakan di TV? Bedebah!
Liat HP. Tidak ada sinyal. Melihat ke sekeliling berusaha mencari air terjun. Iyalah, meskipun tersesat paling tidak masih bisa foto foto. Setengah jam dari sekarang saya akan mulai emosi dan memakan tanganku sendiri karena lapar. Tapi itu tidak terjadi. Saya menumpang dumptruck dan kebetulan dia tau tempat yang saya tuju. Sopirnya baik, dia bukan psikopat, bukan gay, bukan penjual organ tubuh dan bukan makhluk aneh kelainan gen pemakan manusia. Dia bahkan menawariku rokok, merknya ‘Geo mild’. Namanya bagus tapi itu tidak membuat rasa daun jati dan alang alangnya hilang. Jadi ingat The touristas. It’s so much fun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar