Namanya Hanif...
Lulusan D3 salah satu politeknik ternama di Jakarta. Hanif adalah salah satu kesalahan terbesar dari teknologi pencangkokan otak buatan. Hanif bangunnya sangat siang karena tidurnya jam 4 subuh. Alasannya karena nonton drama korea berseri. Sebenarnya saya tidak punya masalah dengan kebiasaan Hanif yang menurutku sedikit horor, tapi ceritanya berbeda karena Hanif punya kebiasaan lain yang tidak kalah menguras emosi. Hanif tidak bisa nonton drama korea berseri dengan lampu dipadamkan. Setiap saya terbangun karena cahaya yang membuat retinaku tidak berhenti bekerja dan menanyakan dia lagi bikin apa subuh subuh buta begini, dia akan menjawab dengan tidak acuh "gue lagi bikin RAB!". Ah iya hampir lupa, Hanif ngomongnya Loe Gue [Ngehe']. Membuatku merasa terjebak dalam kehidupan sinetron setiap detiknya. RAB katanya? Kalo itu benar, Hanif harus masuk nominasi pegawai teladan bulan ini sepanjang tahun. Dan meskipun tidak bisa dibilang saya menyukai Hanif [memang harusnya tidak boleh begitu] saya akan vote untuk namanya tanpa rasa bersalah sama sekali.
Tapi alibi RABnya sedikit cacat karena dari laptop Acer berwarna abu abu miliknya terdengar suara "Oppa, Sarang he..". Hanif, saya tau kau sakit jiwa tapi menjadikan RAB sebagai alasan untuk nonton sampah korea sangat tidak ilmiah!
Lalu keesokan harinya, ketika harusnya saya sudah lupa dengan kejadian semalam yang berpotensi membuatku kehilangan kemampuan visual secara permanen karena penyakit jiwa Hanif yang semakin tidak terkontrol. Hanif kembali menguji kesabaranku. Jika hidup bersama dalam ruangan yang sama dengan Hanif adalah salah satu tantangan dalam reality show berhadiah mobil mewah, mungkin sekarang saya sudah sibuk cuci BMW seri terbaru di sungai Lambolo.
Hanif, tahukah kau arti PSM untuk kami semua? Lalu kenapa kau ambil remote TV dan mengganti saluran tanpa konfirmasi? Hanif, jika di Argentina sepak bola adalah agama maka bagi kami PSM adalah agama orang orang Argentina! Tidak sampai disitu, Hanif melanjutkan aksi tidak bermoralnya dengan..[sudahlah, menyebutnya akan bikin asam uratku kambuh]
Lalu kemudian, saya merasa harus melakukan sesuatu untuk menyadarkan Hanif. Cara yang elegan dan mewah seperti menjelaskan dengan penuh senyum persahabatan, Hanif tanggapi dengan gurauan bangsa Viking. Baiklah Hanif, ini akan sedikit berdarah!
Setelah sedikit aksi teatrikal di dapur yang kosong, Hanif tergeletak tidak bernyawa di lantai dengan bersimbah darah. Di tanganku masih ada pisau daging ukuran XL. Sunyi. [Saya membayangkan ini sampai ratusan kali].
Tapi bukan itu yang terjadi dan kalian tidak perlu kecewa. Saya tidak akan mengatakan apa yang saya lakukan tapi Hanif tidak akan mengulangi perbuatannya dalam waktu yang sangat lama. Hanif juga berjanji untuk sembuh dari penyakit jiwanya meski tanpa pertolongan dokter manapun.
Dan setelah menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang berbeda yang kami anut. Dan dia sebaiknya memahami hal seperti itu. karena untukku sendiri, hidup tanpa harga diri sama saja dengan mati.
Kalo ada yang jual..beli [good words, anyhow]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar