Senin, 27 Februari 2012

Redemption

18 tahun yang lalu..
Kemeja putih dan celana merah hati. Saya merasa sangat enggan untuk memulai hari dan sekolahku yang baru. Ini kali ke tiga saya harus pindah sekolah karena orang tuaku pindah tugas. Sekarang saya duduk di kelas lima sekolah dasar. Masa dimana semua anak seusiaku membutuhkan pengakuan atas eksistensi sebagai laki laki [dari kecil saya sangat bahagia karena berjenis kelamin jantan dan perasaan itu bertambah kuat saat menginjak usiaku yang sekarang. Menjadi laki laki itu sangat menyenangkan. Maksudku sebagian besar menyenangkan]. Hari ini akan sangat berat. Seperti hari pertama di sekolahku yang ke-dua saat saya masih kelas 3, saya memulainya dengan perkelahian yang tidak saya menangkan. Pulang kerumah dengan wajah memar dan pakaian kotor bukan apa apa. Tapi dipukuli dalam selokan sekolah lebih meninggalkan bekas. Sukri, tubuhnya terlalu besar untuk anak seusianya. Sukri yang beberapa minggu ke depan akan sangat malang karena kembali harus berurusan denganku saat saya telah jauh lebih siap. Bahkan dengan sebanyak apapun otot yang dia miliki, gilirannya untuk masuk selokan tidak pernah dia duga sebelumnya. Meski setelahnya keadaanku jadi sangat menyedihkan karena ternyata Sukri punya kakak yang tidak lulus TK.

Hari pertama sebagai orang asing di sekolah sangat tidak menyenangkan. Apalagi dengan mata sipit. Usia anak anak ini masih sangat muda, tapi mereka rasis luar biasa.
Acara perkenalan diri di depan kelas diwarnai teriakan "Cina! Cina!". Saya tetap tenang dan berusaha mencari sumber teriakan yang paling keras dan mengenali wajahnya.
"Hemat energimu, kau akan membutuhkannya saat sekolah usai, pribumi.." kataku dalam hati.

Seakan hari ini belum cukup buruk, ibu wali kelas memilihkan tempat duduk untukku. Malapetaka. Saya satu satunya laki laki di kelas ini yang harus duduk dengan seorang perempuan karena tempat duduk yang lain penuh. Saya berusaha menolak secara halus tapi situasi pindah kemana pun saya tetap akan duduk dengan perempuan karena jumlah murid laki laki di kelas ini secara ajaib sangat pas, membuatku pasrah.
Namanya Indriani, rangking umum kelas dengan rambut sebahu. Kulit sawo matang dan kalimat pertama untukku darinya adalah "bisa jako meliat itu? ka kecil sekali matamu..". Saya baru akan mengangkat kursi untuk dihantamkan ke mukanya, tapi dipotong oleh suara ibu guru yang memanggil namaku untuk menghadap ke ruang guru. Ada berkas pindah sekolahku yang tidak lengkap katanya.

Masa sekolah dasarku tidak begitu menyenangkan dan sejauh yang bisa saya ingat, saya hanya punya satu orang teman. Namanya Awaludin Goman. Awal yang matanya juga sipit sepertiku hanya kulitnya jauh lebih putih dan itu dia peroleh dari ibunya yang keturunan tionghoa. Jadilah kami duo china di kelas. Dalam pergaulan kami berada di dasar klasemen. Tapi tidak untuk urusan prestasi di kelas. Kami luar biasa. Dan prestasi ini juga yang membuat kami jadi jauh lebih sering mengerjakan PR mereka yang tubuhnya lebih besar dan rumahnya dekat sekolah. Mereka yang punya teman 10 tahun lebih tua dan beprofesi sebagai tukang palak khusus buat kami. Tukang palak yang memaksa kami memodifikasi seragam sekolah agar bisa menyembunyikan uang jajan dilipatan kerah baju karena upaya menyembunyikannya dalam kaos kaki tidak bisa dibilang berhasil. Tukang palak yang akan babak belur nantinya setelah sekolah bela diriku tamat beberapa tahun berikutnya. Hari pembalasan setelah tahun tahun penderitaan. Hari indah yang tidak bisa dinikmati awal karena dia memilih menghabiskan hidupnya di panti rehabilitasi saat harusnya kami sudah berada di tahun kedua sekolah menengah.

Hal hal baik terjadi dalam hidup hanya jika berjuang agar itu..terjadi

Karena pagi ini saya mengalami sesuatu yang mengingatkanku pada masa merah hatiku...sesuatu yang membuat masa itu bukan lagi masa yang tidak terlalu menyenangkan.

Viva SDN 2 Mannuruki! :D

Tidak ada komentar: